Minggu, 29 Juni 2008

BBM: Naik atau Tidak Naik, that is NOT the Question
D. Manggala

So, what is the question?
Pertanyaannya adalah bagaimana kita menyikapi hal ini agar jadi suatu wacana yang produktif.
Setiap kebijakan politik (apalagi BBM) pasti merupakan suatu dilema; buah simalakama; ada pro, ada kontra; ada plus, ada minusnya.
Kalau dua hal yang berseberangan, berada di dua kutub yang berbeda, dibicarakan dengan semangat yang positif pasti hasilnya akan produktif. Kalau tidak salah, ini yang namanya dialektika. Misalnya, sejarah panjang ilmu pengetahuan dimulai dari dua kutub yang bertentangan. Satu pihak mengatakan bahwa materi terdiri dari bagian terkecil yang tak dapat dibagi (yang disebut atom), pihak yang berseberangan mengatakan materi terdiri dari bagian yang kalau dibagi tidak akan habis-habis, alias selalu bisa dibagi sampai infinity. Demikian kedua pihak ini berpolemik dan berbantahan tak habis-habisnya...the rest is history. Kalau kita mau bercermin, pertentangan seperti itu kalau dijaga menjadi rantai tesis vs. anti tesis = sintesis, maka hasilnya adalah apa yang kita nikmati sekarang; ada laptop, ipod, friendster, dan blog (Hi Roy! ™).
Maka dalam semangat yang sama, mari kita lihat persoalan harga BBM ini dari dua sisi faktual:
Faktor yang mendukung kenaikan BBM:
1. Harga minyak mentah dunia sedang membumbung tinggi, melewati US$ 50/barrel; ini harga yang bukan hanya menendang Indonesia tapi semua negara manapun yang butuh BBM terutama yang termasuk net oil importer. Dengan harga $45 barel/barel, subsidi BBM per bulan adalah 2 Triliun rupiah per bulan. Singkatnya, bandar tekor (Referensi: Majalah Tempo, tanggal 6 Maret 2005).
2. Indonesia sudah menjadi net oil importer. Produksi rata-rata Indonesia hanya maksimum 1 juta barel per hari, sedangkan tingkat konsumsi mencapai 1,1 juta barel per hari.(Referensi: Majalah Tempo, tanggal 6 Maret 2005). Untuk ulasan agak panjang tentang situasi perminyakan Indonesia dibandingkan dengan Arab Saudi, AS, dan China
3. Secara nasional kesadaran kita untuk hemat bahan bakar rendah sekali. Contohnya? Ya, orang malah berbondong-bondng beli mobil boros semacam SUV.
4. Kenaikan harga BBM sudah direncanakan sejak masa Pemerintahan Ibu Mega, jadi kemungkinan besar siapapun presidennya minumannya tetap Teh Sosro (lho?). Maksudnya, siapapun pemimpinnya jika dihadapkan kondisi seperti ini pasti menghadapi dilema yang sama.
5. Menurut Muhammad Chatib Basri, Direktur Riset LPEM FEUI, mempertahankan subsidi BBM sama dengan "membela kelas menegah atau penyelundup BBM." (Ada di Majalah Tempo, tanggal 6 Maret 2005 halaman 123).
Nah, sekarang giliran faktor yang tidak mendukung kenaikan BBM:
1. Situasi sedang prihatin: krisis moneter aja belum lewat-lewat, belum lagi deretan bencana alam. Singkatnya, masyarakat Indonesia sudah menderita dan babak belur tanpa ada kenaikan harga BBM. Apa ngga bisa ditunda dulu bentar lagi, misalnya taun depan pas situasi agak mendingan?
2. Kalau harga yang naik cuma BBM aja sih masih bisalah rakyat yang hidup pas-pasan bernapas sedikit (lha wong ngga punya mobil, ga usah beli bensin). Tapi, yang berat kan ongkos transportasi jadi naik; kalau udah yang satu ini naik semua harga juga naik....seperti bola salju yang menindih rakyat kecil. Padahal sudah bisa dipastikan pendapatan bakal segitu-segitu aja...ya bisa dibayangkan lah betapa beratnya hidup... Biasanya kalo terjadi hal sepert ini, pemerintah kurang sigap.
3. Proses sosialisasi kepada masyarakat belum tuntas, malah ada kesan kalau bisa masyarakat ngga usah dilibatkan. Paling tidak dengan DPR diskusinya agak lama dikit dan lebih komprehensif lah (yah walaupun kita sadar pola pikir anggota DPR juga banyak yang lebih konsentrasi ke usaha jegal menjegal antar partai daripada fokus ke topik utama untuk mensejahterakan rakyat). Tapi paling tidak ada suasana kerjasama eksekutif & legislatif dalam mengambil kebijakan penting seperti ini.
4. Apa ngga sebaiknya biaya talangan subsidi didapatkan dari mengumpulkan duit yang dikorupsi secara kompak oleh pejabat, wakil rakyat, dan para pengusaha? Apa tidak ada usaha lain seperti mengefisienkan kinerja industri perminyakan termasuk Pertamina? Kalau ini didahulukan kan lumayan....
5. Apa bener nanti uang subsidinya sampai ke yang membutuhkan? Jangan-jangan jadi "lahan baru" buat diembat...
Jadi seperti kita lihat, memang bikin keputusan buat rakyat ngga mudah. Dua sisi diatas sama benarnya, itulah sebabnya jadi pejabat negara memang harus siap melayani rakyat, bukan siap "memerintah". Tugas sebagai pejabat negara itu amanah jadi memang resikonya capek, harus kerja keras tapi tetap dicaci maki orang. Tapi kalau yang memegang amanah bisa tetap teguh menjalankan tugas tanpa banyak melenceng kekiri-kekanan, alias tetap lurus di jalan yang benar, maka itulah kesempatan ia dicintai oleh rakyat; mungkin resikonya bakal jadi pejabat miskin. Pilih mana, jadi orang kaya seperti kebanyakan mantan pejabat sekarang...atau miskin dicintai dan dikenang masyarakat Indonesis seperti beberapa mantan pejabat yang lurus? :)
Buat pemerintah mungkin pekerjaan rumah yang penting sekarang ini setelah harga sudah dinaikkan adalah:
1. Menjamin bantuan kepada rakyat miskin sampai ke sasaran.
2. Memperbaiki sistem perundangan untuk investasi baru di industri hulu perminyakan; agar produksi bisa bertambah dari yang sekarang sudah menurun terus.
3. Konsisten menegakkan hukum, termasuk menangkap koruptor. Tangkap dan penjarakan juga pembunuh Munir. Juga cukong-cukong yang ngebabat hutan atau membakarnya; terakhir hukum orang-orang "gede" yang suka dar der dor menghilangkan nyawa orang. Kalau ini bisa dilakukan, pasti "dosa" menaikkan harga BBM dimaafin oleh kebanyakan rakyat (dengan perkecualian mungkin ngga dimaafin oleh mahasiswa, karena tugas mereka memang harus kritis terus, mumpung belum terpolusi pikirannya).
Nah mumpung inget, pendapat pribadi saya (rakyat biasa) bagi teman-teman mahasiswa yang sedang rajin demo, sebaiknya mulai meninggalkan cara-cara berikut dalam demonstrasi: membakar ban/benda lain (karena kemungkinan perlu BBM serta pasti menimbulkan polusi), memblokir jalan raya, maupun membajak mobil tangki BBM. That is so not cool, dudes!
Malah, mungkin untuk sementara waktu cara-cara demonstrasi sebaiknya ditinggalkan dulu karena sekarang nilainya sudah menurun. Demonstrasi menjadi suatu cara yang menarik, heroik, dan bernilai tinggi, ketika dilakukan tidak secara rutin dan mempunyai pesan yang luar biasa kuat (seperti waktu menjatuhkan Pak Harto). Sekarang ini demonstrasi sudah jadi pasaran banget, bukan hanya mahasiswa yang demo tapi juga pendukung koruptor, preman, orang bayaran, dll...yang akhirnya mengurangi arti sebuah tindakan yang bernama "demo". Intinya, mahasiswa mungkin mesti cari cara baru untuk melanjutkan perjuangan...perlu diferensiasi biar ngga sama dengan orang-orang yang dapet ceban gitu loh... Bagaimanapun idealisme mahasiswa pasti masih dihargai dan diperlukan oleh bangsa ini.
Akhir kata, masalah naik atau tidak naik harga BBM ngga akan habis-habis kalau cuma dijadikan bahan cela-mencela atau hujat-menghujat. Akan lebih produktif kalau dari dua kutub yang berlawanan itu dicari alternatif terbaik dari pilihan-pilihan buruk yang kita punya.


bagus ga blog gw ???